Tiga Tahun di Atas Panggung Palsu


Tiga tahun. Tiga tahun umurku habis untuk sesuatu yang katanya membangun. Tiga tahun aku bergabung dalam pusaran sosial masyarakat yang melelahkan. Poktan, Gapoktan, Petani Milenial—tiga wadah, tiga harapan, tiga kekecewaan yang sama.

Aku ingat saat pertama kali namaku dicatat sebagai anggota. Aku bangga. Aku pikir ini adalah gerbang perubahan. Ternyata aku salah. Aku sangat salah.

---

🎭 Formalitas Tanpa Jiwa

Aku menyebutnya teater pembangunan. Setiap bulan kami duduk di balai desa. Pak penyuluh datang dengan laptop dan infocus. Slide demi slide berganti. Gambar sawah hijau, grafik panen meningkat, foto petani tersenyum memegang uang.

Tapi di luar sana, sawahku kebanjiran karena drainase macet. Bibitku terserang hama karena pestisida palsu. Dan aku harus pinjam uang ke tengkulak untuk biaya tanam.

Apa yang mereka sosialisasikan?

· "Petani harus menggunakan pupuk organik!" → Padahal pupuk organik tidak tersedia di kios.
· "Manfaatkan KUR untuk modal!" → Padahal syaratnya berbelit dan butuh agunan tanah.
· "Gabung asuransi pertanian!" → Padahal klaimnya berbulan-bulan, dan gagal panang dianggap "kesalahan petani".

Sosialisasi tanpa henti. Tapi tidak ada yang turun ke sawah. Tidak ada yang bertanya, "Kamu butuh apa, Nak?" Mereka hanya datang, bicara, foto, tanda tangan daftar hadir, lalu pergi. Tiada hasil. Tiada dampak. Tiada ketulusan.

---

🤔 Kenapa dengan Cara Berpikir Pemimpin Negeri Ini?

Aku bertanya-tanya setiap malam, di bawah atap rumah yang bocor. Apakah mereka buta? Apakah mereka tuli? Atau mereka memang sengaja tidak mau melihat?

Program ini sudah sesuai prosedur, kata mereka. Anggaran sudah disalurkan, kata mereka. Partisipasi masyarakat meningkat, kata mereka.

Prosedur? Yang aku lihat prosedur hanya memuaskan kertas kerja, bukan perutku.
Anggaran? Yang aku dengar angka triliunan, tapi yang aku pegang hanya uang pas-pasan untuk beli beras.
Partisipasi? Yang mereka maksud adalah kehadiran fisik kami di ruangan ber-AC itu, lalu kami diminta tepuk tangan.

Kenapa mereka tidak memikirkan dampak? Apakah mereka terlalu sibuk menghitung proyek jangka pendek yang menguntungkan kantong sendiri? Apakah mereka lupa bahwa petani ini manusia, bukan hanya angka di laporan tahunan?

---

🕋 Kenapa dengan Masyarakat yang Mikirnya Hanya "Haji Mumpung"?

Dan ini yang paling menyakitkan. Bukan hanya pemimpin yang salah. Tapi rakyatnya sendiri ikut-ikutan.

Ketika ada bantuan sembako, mereka rebutan. Ketika ada undangan sosialisasi, mereka datang demi uang transport. Ketika ada program pelatihan, mereka hadir demi makan siang gratis. Lalu setelah itu, mereka menghilang. Kembali ke kebiasaan lama.

"Yang penting haji, Pak. Nanti kan dosa-disa diampuni."
"Pemimpin kita siapa saja sama saja. Yang penting ada yang ngasih."
"Urusan hidup di dunia ini hanya cari makan. Jangan terlalu banyak mikir."

Aku mendengar kalimat-kalimat itu setiap hari. Sungguh, hatiku perih.

Bukan karena aku tidak religius. Aku percaya Tuhan. Tapi aku juga percaya bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak berusaha mengubah diri mereka sendiri. Haji itu mulia, tapi haji bukan tiket untuk membiarkan negeri ini hancur.

Di mana semangat gotong royong? Di mana kemarahan terhadap ketidakadilan? Di mana keberanian untuk bersuara? Tertidur. Tertidur pulas karena diiming-imingi bantuan tunai dan undian hadiah.

Masyarakat kita sudah dibius. Dan perutnya sudah terbiasa dengan racun perlahan.

---

👔 Kenapa Pejabat Pemerintah Hanya Melayani Kemauan Pemimpin?

Aku pernah bertemu dengan camat. Aku pernah menyampaikan keluhan tentang pupuk. Beliau tersenyum ramah. "Akan kami tindak lanjuti, Pak."

Tiga bulan kemudian, belum ada kabar. Aku datang lagi. "Maaf, masih kami koordinasikan dengan dinas terkait."


Aku sadar sesuatu. Pejabat itu bukan pelayan masyarakat. Mereka adalah pelayan atasan. Mereka melaksanakan apa yang diperintahkan. Mereka tidak berani melangkah di luar buku pedoman. Mereka takut dianggap "tidak loyal" atau "tidak profesional".

Loyal kepada siapa? Profesional untuk siapa?
Kalian mengabdi pada jabatan. Kalian mengabdi pada kenaikan pangkat. Kalian mengabdi pada proyek-proyek yang membuat kalian kaya.

Kalian lupa bahwa kalian digaji dengan uang rakyat. Kalian lupa bahwa kalian bersumpah demi Tuhan. Kalian lupa bahwa suatu hari kalian akan mati dan dimintai pertanggungjawaban.

---

☠️ Ada Apa dengan Kalian yang Tidak Bersungguh-sungguh?

Aku bertanya dengan dada yang sesak:

Kenapa kalian tidak serius membangun negeri ini? 
Kenapa setiap program hanya setengah hati? 
Kenapa janji-janji kalian hanya menghias spanduk dan baliho? 
Kenapa kalian lebih senang berfoto bersama daripada turun ke lapangan? 
Kenapa kalian sibuk mengatur jadwal kunjungan kerja ke luar negeri, sementara jalan desa masih berlubang?

Bukannya kalian pelayan masyarakat? 
Itu kata-kata yang kalian sendiri yang ucapkan saat dilantik. Tapi buktinya? Pelayan macam apa yang lebih sering duduk di kursi empuk daripada mendengar keluhan?

Kepemimpinan kalian tidak ada Tuhan. 
Kalian pakai nama Tuhan dalam setiap sambutan. Kalian tutup pidato dengan "Wassalamualaikum" dan "Semoga Tuhan meridhoi". Tapi hati kalian jauh dari ketaatan. Kalian korupsi waktu, tenaga, dan amanah. Kalian sia-siakan kesempatan yang Tuhan berikan.

Untuk siapa kalian mengabdi? 
Untuk perut sendiri. Untuk keluarga sendiri. Untuk golongan sendiri. Bukan untuk rakyat. Bukan untuk petani. Bukan untuk negeri ini.

---

📿 Padahal Kalian Diberi Kesempatan Menjadi Pemimpin yang Adil

Tuhan itu Maha Adil. Dia memberi kalian posisi. Dia memberi kalian kekuasaan. Dia memberi kalian anggaran. Bukan untuk kalian nikmati sendiri. Tapi untuk kalian salurkan kepada yang membutuhkan.

Tapi kalian sia-siakan.
Kalian pilih jadi pemimpin yang populer, bukan yang bermanfaat.
Kalian pilih proyek yang instan, bukan yang berkelanjutan.
Kalian pilih fotokopi, bukan tindakan nyata.

Aku membayangkan, jika saja kalian serius. Jika saja kalian turun ke sawah sebulan sekali. Jika saja kalian tidur di rumah petani untuk merasakan bagaimana rasanya takut gagal panen. Jika saja kalian memotong gaji kalian untuk membeli pupuk bagi petani miskin.

Maka negeri ini tidak akan seperti sekarang.
Maka petani tidak akan gantung diri karena utang.
Maka anak petani tidak akan malu mengaku anak petani.
Maka aku, yang sudah tiga tahun bergabung di Poktan, Gapoktan, Petani Milenial, akan tersenyum bangga—bukan mengernyitkan dahi karena kecewa.

---

🌾 Akhir dari Narasi Seorang Petani Milenial

Tiga tahun sudah. Aku masih di sini. Masih duduk di balai desa saat ada sosialisasi. Masih mendengar janji-janji yang sama. Masih melihat senyum pejabat yang sama. Masih merasakan kekecewaan yang sama.

Tapi aku tidak akan berhenti bersuara.
Aku tidak akan lelah menulis.
Aku tidak akan lelah mengingatkan.

Bukan karena aku idealis. Tapi karena aku masih punya harapan. 
Harapan bahwa suatu hari ada pemimpin yang benar-benar melayani.
Harapan bahwa suatu hari masyarakat sadar bahwa "haji mumpung" bukan segalanya.
Harapan bahwa suatu hari program itu berdampak, bukan sekadar formalitas.

Sampai hari itu tiba, aku akan terus bertani. Aku akan terus bergabung. Aku akan terus bersuara. Karena jika bukan aku, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi?

Tolong, jangan sia-siakan kesempatan yang Tuhan berikan. 
Bangun negeri ini dengan sungguh-sungguh. Bukan untuk foto. Bukan untuk proyek. Bukan untuk jabatan.

Tapi untuk rakyat. Untuk petani. Untuk masa depan anak-anak kita.

---

Ditulis oleh seorang petani milenial yang masih percaya pada keadilan, meskipun sering kali keadilan itu terasa seperti mimpi di siang bolong.

Desa di ujung Kalimantan, 2026
© swataniEtam.
Hak cipta dilindungi. Dilarang menyalin atau mempublikasikan ulang konten ini tanpa izin tertulis dari pemilik.
Diskusi