Panggilan dari Ujung Timur


Aku adalah cowok yang miskin cinta. Bukan cuma miskin harta—meskipun harta juga tidak pernah berpihak padaku. Tapi yang lebih parah dari kantong kosong adalah hati yang sejak kecil tidak pernah diajari cara dicintai.

Di bangku kuliah, aku hanya bisa melihat dari jauh. Aku ngumpul dengan Rendra, dengan Dirga. Mereka bercerita tentang cinta, tentang debar-debar yang tidak pernah aku alami. Aku diam. Aku hanya bisa mendengar. Lalu suatu hari, penasaran itu muncul. Mungkin karena bosan dengan tembok kosong di kamar kost, atau mungkin karena mata lelaki memang diciptakan untuk mencari keindahan.

Itu Sasmita, kataku dalam hati. Kayaknya cocok sama kamu.

Tapi penasaran itu hanya jadi penonton dalam panggung khayalku. Tidak pernah aku ubah menjadi kata, apalagi nyata.

---

Waktu berlalu. Seperti biasa, waktu tidak pernah peduli pada siapa yang sedang terluka atau siapa yang sedang menahan rindu.

Kami lulus. Kami bekerja. Aku pergi ke ujung timur. Dia ke ujung barat. Dan aku pikir, sudah selesai. Sudah mati. Sasmita hanya akan menjadi nama yang sesekali muncul di lamunan 2 pagi, lalu aku biarkan tenggelam kembali.

Tapi hidup suka bercanda. Kadang dengan cara yang paling tidak masuk akal.

Telepon bergetar. Nomor tak dikenal.

"Halo?"

Suara itu. Suara yang tidak pernah aku dengar secara langsung, tapi entah bagaimana aku mengenalnya. Seperti mengenali lagu yang dulu pernah aku dengar sekali, lalu tidak pernah lagi, tapi melodinya tetap tersimpan di relung paling dalam.

Rupanya itu Sasmita. Gadis yang selama ini hanya ada di alam pikirku. Gadis yang tidak pernah aku ungkap dalam nyata.

Padahal di masa SMA, kami tidak pernah tegur sapa. Tidak pernah bertukar senyum. Tidak pernah satu meja. Kami seperti dua ekor burung yang terbang di langit yang sama tapi tidak pernah saling menoleh.

Tapi di telepon itu, sesuatu terjadi. Sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan sampai sekarang.

Kami nyaman. Kami saling memahami. Kami saling merindukan—meskipun dulu kami bahkan tidak pernah saling kenal.

---

Lucunya, begini cara Tuhan mempertemukan dua orang yang tidak pernah saling mencari.

Aku bekerja di Sangkulirang. Ujung timur Kalimantan. Tempat di mana daratan bertemu dengan laut, di mana sawit membentang sampai matahari jatuh.

Dan dia di Kubar—Kutai Barat. Ujung barat dari peta yang sama.

Jaraknya bukan soal kilometer. Jauh lebih dari itu. Tapi malam tidak pernah menghitung jarak.

Setiap malam, aku berjalan ke bawah pohon sawit. Aku mencari posisi paling tinggi—mungkin di atas tanggul atau di atas tumpukan tandan kosong—agar sinyal menangkap suaranya. HP Sony Ericsson seri K jadi saksi bisu. Layar monokrom, tombol yang mulai aus, tapi nyala. Tuhanku, dia nyala.

Dan nyamuk. Ribuan nyamuk. Mereka menggigit tanganku, pipiku, bahkan kelopak mataku. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya peduli pada suara di ujung sana yang kadang putus-putus, yang kadang hilang karena hujan, tapi tidak pernah hilang dari hatiku.

"Masih denger, Sayang?"

"Masih. Walaupun cuma satu bar, aku masih."

Setiap malam. Berjam-jam. Sampai baterai habis. Sampai suaranya serak. Sampai cinta tertidur di antara desir daun sawit dan lolongan angin malam.

---

Lalu kami menikah. Di usia 23. Usia yang kata orang masih terlalu muda untuk mengerti apa itu hidup. Tapi kami tidak menikah karena mengerti. Kami menikah karena lelah berpisah.

Aku ingat pernikahan itu. Sederhana. Tidak ada yang mewah. Hanya doa dan air mata ibu yang tidak ingin anaknya hidup kekurangan. Tapi Sasmita tersenyum. Dan senyum itu membuatku percaya bahwa mungkin, mungkin aku bisa.

Tapi ternyata cinta saja tidak cukup.

---

Maaf, aku belum bisa membahagiakanmu, Sayang.

Maaf, aku belum bisa mengerti caranya mencintai dengan benar.

Maaf, karena yang aku tahu dari kecil hanyalah kekurangan—dan kekurangan itu menular sampai ke cara aku mencintaimu.

Aku sangat menyayangimu. Lebih dari kata-kata yang bisa aku rangkai. Tapi kebahagiaan tidak boleh berjalan di satu sisi. Jika hanya aku yang bahagia karena memilikimu, sementara kau lelah karena menerima, itu bukan cinta. Itu keegoisan.

---

Sekarang aku mengerti.

Cinta yang sehat bukan tentang siapa yang paling bertahan. Tapi tentang dua orang yang sama-sama kuat, sama-sama utuh, dan sama-sama pulang.

Kita tidak perlu menjadi kaya. Kita tidak perlu menjadi sempurna. Tapi kita harus menjadi sepasang sepatu yang saling melengkapi: kanan dan kiri, sama-sama menapak, sama-sama lecet, sama-sama berhenti bersama.

Jika satu sisi terus mengalah dan sisi lain terus merasa kurang, maka sepatu itu akan pincang. Dan orang yang memakainya akan jatuh.

Aku tidak ingin kau jatuh karena aku.

---

Maka untuk Sasmita, gadis yang dulu tidak pernah aku sapa, yang kini menjadi isteriku:

Maaf jika cintaku masih setengah-setengah. Maaf jika hatiku yang miskin cinta ini belum bisa memberi lebih. Tapi aku sedang belajar. Di bawah pohon sawit itu, aku belajar. Dari gigitan nyamuk itu, aku belajar. Dari panggilan yang putus-putus itu, aku belajar bahwa cinta bukan tentang memiliki, tapi tentang saling menguatkan.

Kita belum kaya harta. Tapi kita punya waktu. Dan kita punya satu sama lain.

Semoga Tuhan masih memberiku cukup napas untuk memperbaiki semua yang salah.

---

Untuk semua lelaki yang hatinya miskin cinta, dan untuk semua perempuan yang sabar menunggu mereka belajar:
Cinta bukan tentang siapa yang paling hebat memberi.
Tapi tentang dua orang yang mau terus belajar memberi, bersama-sama, sampai akhir.

---

Sangkulirang - Kubar, di bawah pohon sawit yang sama, dengan kenangan yang tidak pernah usang.
© swataniEtam.
Hak cipta dilindungi. Dilarang menyalin atau mempublikasikan ulang konten ini tanpa izin tertulis dari pemilik.
Diskusi