Aku tumbuh di antara pecahan kaca
yang tak pernah kau sapu, Ayah
di mana suaramu hanya angin lalu
dan pelukmu semacam gurun
yang tak pernah menghujan
Ibu berkata aku salah
dalam setiap tarikan napasku
dalam setiap langkah yang kuambil
seolah aku utang
yang tak pernah lunas
---
Kini aku berdiri di rumah yang kubangun
dengan tulang-belulang yang rapuh
di samping lelaki yang kupilih
tapi kadang matanya seperti cermin
yang memantulkan kembali
bayang-bayang penolakan lama
Aku tahu aku banyak salah
Aku tahu aku tak diinginkan
tapi pantaskah pengkhianatan
menjadi jawaban
atas semua kekuranganku?
---
Hatiku menyimpan luka
seperti laut menyimpan kapal karam
tapi aku pandai memendam
aku pandai tersenyum
di atas puing-puing yang hancur
Jangan sampai—
Tuhan, jangan sampai
pecahan ini melukai kaki mereka
tiga anak kecil yang kucintai
lebih dari sisa-sisa diriku yang masih utuh
---
Aku akan menjadi pelabuhan
yang tak pernah mereka tinggalkan
aku akan menjadi jawaban
atas semua pertanyaan
yang tak pernah kudapatkan
Kuatkan aku, Tuhan
lunasi dosa-dosaku
dengan sisa napas yang tersisa
dengan darah yang masih mengalir
Biarkan aku kembali kepada-Mu
dalam kekosongan yang telah kupeluk erat
tapi jangan biarkan mereka
merasakan apa yang kurasakan
Ampuni aku
karena masih mencintai
di tengah semua yang tak mencintaiku
---
— Untuk ketiga bintang yang tak boleh padam