Anti-Ribet" yang Jadi Ribet



Suatu pagi, Pak Prabowo memanggil seluruh menteri untuk rapat kabinet. Tema utamanya: Efisiensi Anggaran.

"Ibu-ibu, Bapak-bapak," ucap Pak Prabowo membuka rapat. "Saya minta semuanya sederhana. Laporan cukup satu halaman. Tidak usah pakai slide Power Point 100 halaman!"

Para menteri mengangguk patuh.

Menteri Perencanaan maju. "Baik Pak. Saya sudah ringkas. Intinya, kita mau hemat dengan mengurangi rapat tatap muka. Nanti kita ganti dengan rapat zoom."

"Bagus! Hemat bensin dan uang catering!" puji Pak Prabowo.

Namun, Menteri Kominfo langsung angkat tangan. "Tapi Pak, untuk rapat zoom yang aman dari peretasan, kita perlu beli server baru dan kuota internet khusus. Anggarannya 1,5 Triliun."

Pak Prabowo mengerutkan dahi. "Lho, kok malah gede? Ya sudah, rapat tatap muka aja!"

Menteri Keuangan langsung nyaut: "Pak, kalau tatap muka, kita butuh catering. Anggaran catering kementerian sudah saya potong 70% bulan ini. Jadi kalau rapat jam 11, perutnya pada keroncongan."

"Ya sudah, rapatnya jam 7 pagi! Bawa bekal masing-masing! Saya bawa nasi uduk dari rumah," potong Pak Prabowo santai.

Sekretaris Kabinet langsung panik. "Pak, protokol kepresidenan melarang! Nanti foto beredar, Presiden makan nasi uduk plastik, dikira negara bangkrut!"

Pak Prabowo menghela napas. "Ribet amat! Oke, saya potong anggaran perjalanan dinas. Semua pejabat eselon I kalau ke luar kota naik kereta ekonomi saja!"

Menteri BUMN langsung berkata, "Pak, kereta ekonomi penuh. Nanti mereka berdiri sampai tujuan, sampai rumah langsung masuk RS. Biaya kesehatannya malah lebih mahal dari tiket pesawat."

Semua menteri mulai rebutan. Ada yang usul potong uang lembur, ada yang usul ganti AC kantor jadi kipas angin. Ruangan jadi ramai seperti pasar.

Pak Prabowo menepuk meja. "STOP!"

Semua diam.

Beliau lalu berkata dengan nada pasrah, "Jadi, intinya mau hemat itu susah, ya? Potong kiri, muncul kanan. Potong kanan, muncul kiri."

Semua menteri mengangguk kompak.

Dengan wajah lelah, Pak Prabowo menutup rapat. "Baik, rapat hari ini selesai. Besok kita rapat lagi untuk membahas bagaimana caranya agar rapat efisiensi ini tidak perlu diadakan lagi."

Para menteri pun berdiri, satu per satu keluar ruangan sambil bergumam pelan, "Rapat lagi... rapat lagi..."

Di luar, staf protokol bertanya pada ajudan, "Pak, tadi rapatnya hasil apa?"

Ajudan itu hanya menggeleng sambil tersenyum kecut, "Hasilnya: kita akan rapat lagi."

---

Pesan tersirat: Cerita ini menggambarkan bagaimana birokrasi kita seringkali ngotot mau efisien, tapi malah terjebak prosedur dan aturan yang bikin muter-muter.
© swataniEtam.
Hak cipta dilindungi. Dilarang menyalin atau mempublikasikan ulang konten ini tanpa izin tertulis dari pemilik.
Diskusi