Dulu: Diadu Pakai Senjata & Wilayah
Bayangkan zaman penjajahan. Belanda datang dan melihat rakyat Nusantara itu banyak kerajaan, banyak suku, banyak bahasa. Mereka berpikir, "Kalau disatukan, kita kalah. Tapi kalau diadu, kita menang."
Caranya? "Wahai Kerajaan A, kerajaan B itu musuhmu. Bantu kami lawan mereka, nanti kamu kami beri kekuasaan." Kerajaan A pun patuh. Setelah Kerajaan B hancur, Belanda balik menaklukkan Kerajaan A yang sudah lemah. Ini yang terjadi pada Mataram, Banten, Makassar, dan banyak lagi. Politik adu domba model lama ini memakai iming-iming tahta, harta, dan dendam antarkerajaan.
Sekarang: Diadu Pakai Isu & Perasaan
Penjajah fisik sudah pergi. Tapi pola mengadu domba tetap jalan. Bedanya, alatnya sudah canggih: bukan lagi tentara dan meriam, tapi layar HP dan media sosial.
Sekarang caranya begini:
· Politik Identitas: Ada pihak yang berbisik, "Mereka dari suku A itu malas, jangan pilih pemimpin dari suku itu." Atau, "Agama kalian terancam oleh kelompok sana." Padahal, mereka sendiri tidak peduli dengan agama atau suku kita. Mereka hanya ingin kita bertengkar, supaya mereka bisa tetap berkuasa atau meraup untung.
· Hoaks: Dibuatlah berita bohong yang menyulut emosi. "Kandidat X keturunan asing." "Kelompok Y ingin menghancurkan negara." Begitu otak kita penuh kemarahan dan ketakutan, kita lupa memeriksa rekam jejak si pembuat hoaks. Mungkin dia sendiri sedang sibuk menguras uang negara atau menjual aset bangsa ke luar.
· Polarisasi: Media sosial lalu membelah kita jadi dua kubu: "Kami yang benar, kalian yang sesat." Kita sibuk berdebat sampai lupa makan, lupa kalau di kubu seberang juga ada saudara, tetangga, teman sekampung. Sementara itu, yang mengadu domba duduk tenang di atas panggung, menyaksikan rakyat saling hancur sendiri.
Jadi, Prinsipnya Sama Saja
Dulu, penjajah berkata: "Ayo lawan saudaramu, nanti kau kuberi hadiah."
Sekarang, parasit politik berkata: "Ayo benci saudaramu, nanti kau kuselamatkan."
Bedanya, dulu hadiahnya bisa berupa tahta. Sekarang hadiahnya adalah rasa aman palsu dan perasaan "benar sendiri".
Solusi Sederhana untuk Kita Semua
Kalau kita tidak ingin terus-menerus jadi korban adu domba versi modern, ingat tiga ini:
1. Kalau dapat info yang bikin emosi dan benci, tahan jempol. Jangan langsung sebar. Tanya dulu: "Siapa yang untung kalau saya marah-marah begini?"
2. Jangan percaya pada orang yang selalu menyuruh kita takut pada sesama rakyat. Biasanya, di balik teriakannya, ada kepentingan yang ditutup-tutupi.
3. Musuh kita bukan orang yang beda pilihan politik, beda suku, atau beda agama. Musuh kita adalah ketidakadilan, korupsi, dan kemiskinan. Dan itu hanya bisa dilawan kalau kita bersatu.
Singkatnya: penjajah dulu mengadu kita dengan janji jabatan, parasit sekarang mengadu kita dengan jentikan jari dan narasi kebencian di layar kaca. Kalau kita sadar polanya, kita tidak akan mudah termakan lagi.