Aku ingat betul malam-malam pertama kita di barak sawit. Hujan selalu datang tanpa permisi, menari di atas atap dengan irama yang kadang mengganggu tidurmu. Tapi kau tak pernah mengeluh. Kau hanya tersenyum, merebahkan kepala di bahuku yang masih canggung menopang beban seorang suami. Aku yang belum dewasa, seringkali tak paham bahasa hatimu. Ada malam di mana kau menangis diam-diam, dan aku hanya bisa terbangun menatap langit-langit, bertanya-tanya apa salahku.
Pagi-pagi buta kau sudah bersiap, seragam kerjamu rapi, langkahmu mantap menuju PT London Sumatra tempatmu mengabdi. Sementara aku mencoba ini dan itu—usaha kecil-kecilan yang kadang membawa kami ke puncak harapan, namun lebih sering menjerumuskan ke jurang kekecewaan. Berulang kali kita ditipu. Berulang kali dibohongi rekan bisnis. Uang yang susah payah kau kumpulkan lenyap begitu saja. Malamnya, kita hanya bisa terduduk diam. Aku merasa gagal, tapi kau hanya menggenggam tanganku lebih erat. “Kita bisa bangun lagi,” bisikmu, meski matamu berkaca-kaca.
Ada masanya saling rindu begitu menyiksa saat aku harus pergi berhari-hari mengurus usaha yang berantakan. Ada masanya amarah dan benci membara di antara kita, saat lelah dan putus asa membuat kita saling menyalahkan. Namun entah kekuatan apa yang menahan kita tetap di sini, di bawah atap yang sama. Kasih Tuhan itulah jawabnya. Kasih yang bekerja diam-diam, merajut retakan hati kita, menjadikannya lebih kuat dari sebelumnya.
Kini, puluhan tahun berlalu. Lihatlah kita—berdua, tua, berjalan bergandengan tangan di jalan tanah yang dulu kita lalui dengan susah payah. Sudah tak ada lagi kemarahan dan tangisan. Hanya ada tawa dan tatapan yang mengingat kembali perjalanan panjang penuh liku. Kamu masih di sisiku, bukan karena kita sempurna, tetapi karena Tuhan telah memilihmu untukku.
Dia menganugerahkan tiga anak laki-laki yang tumbuh menjadi pria ganteng, manis, dan lucu. Wajah mereka adalah campuran cinta kita, bukti nyata kasih yang bertahan dari segala badai.
Malam ini, di bawah bintang yang sama yang menyaksikan air mata dan tawa kita bertahun-tahun silam, aku ingin berbisik tepat di telingamu, “Aku selalu mencintaimu.” Bukan hanya cinta saat muda penuh gairah, tetapi cinta yang setia dan telah ditempa waktu. Terima kasih, Tuhan, atas perempuan ini. Pilihan-Mu sungguh yang terbaik bagiku.