Bagian Ku Mana, Pak?




Suatu sore, ruang tamu Istana berubah jadi "pasar tawar-menawar". Pak Prabowo mengundang ketua umum partai-partai koalisi. Tema rapat: Rakor Pembagian Prioritas Nasional.

Begitu duduk, Pak Ketua Partai A (yang punya kursi DPR lumayan banyak) langsung buka suara:
"Pak Prabowo, kami setia sejak awal. Amanah kami 12 kursi menteri. Sekarang kami minta jatah yang sepadan. Proyek strategis di daerah kami, Pak. Tol, bandara, atau setidaknya flyover."

Pak Ketua Partai B (yang juga ngotot) nyaut:
"Pak, kami 10 kursi. Kami minta Kementerian PUPR. Saya sudah siapkan kontraktor, tinggal tanda tangan."

Pak Ketua Partai C (yang agak pendiam) akhirnya angkat bicara:
"Saya sih sederhana, Pak. Cuma minta BUMN perbankan. Biar UMKM di konstituen saya mudah dapat kredit."

Pak Prabowo mendengar semua usulan sambil mengusap wajahnya. Lalu ia berkata:
"Baik, saya dengarkan semua. Tapi ingat, program saya adalah efisiensi. Jadi kursi menteri kita korbankan yang tidak penting."

Partai A bertanya, "Yang tidak penting apa, Pak?"
"Kementerian Pemuda dan Olahraga saya gabung sama Kementerian Pendidikan. Jadi satu," jawab Prabowo.
Partai B melotot. "Lalu kursi yang hilang gimana?"
"Tenang. Nanti saya buat Wakil Menteri khusus di tiap kementerian. Jumlahnya bisa 3-4 orang. Kalian semua dapat," kata Prabowo.

Para ketua partai langsung bersorak dalam hati. Tapi Partai C tanya lagi:
"Kalau proyek fisik, Pak? Tol di daerah kami?"

Pak Prabowo membuka laptop, menunjukkan data APBN.
"Saya sudah hitung. Uangnya cukup. Tapi karena saya sharing ke semua partai, tol di daerah A didanai dari potongan anggaran pupuk. Pupuk di daerah B didanai dari potongan tol di daerah C. Jadi semua jalan dibangun, semua pupuk dikurangi. Rakyat jalan mulus tapi sawah pada puso."

Ruangan langsung hening.

Partai A protes, "Lho Pak, kalau sawah puso, konstituen saya marah dong!"
"Makanya tugas kalian," jawab Pak Prabowo santai, "Kalian turun ke sawah, bilang: 'Ini karena ulah partai sebelah yang ambil jatah pupuk buat tol'. Kalian saling tunjuk. Biar rakyat bingung sendiri."

Partai B, C, dan A saling pandang. Semua sadar: mereka dapat jatah proyek, tapi juga dapat jatah salahkan satu sama lain.

Akhirnya Partai A bertanya dengan nada pasrah:
"Jadi, bagian kami yang jelas apa dong, Pak?"

Pak Prabowo tersenyum lebar sambil menepuk pundak mereka:
"Bagian kalian sudah jelas: bukan jadi oposisi. Kalian semua duduk di sini, dapat kursi, dapat proyek—walaupun proyeknya proyek saling tuding. Itu sudah lebih dari cukup. Sekarang, siapa yang mau kopi? Saya pesankan dari dana cadangan."

Para ketua partai hanya menggeleng pasrah. Di luar, staf Istana berbisik:
"Rapat bubar, hasilnya? Semua partai dapat bagian, tapi bagiannya cuma jadi kambing hitam kalau program gagal."

---

Pesan tersirat: Cerita ini menggambarkan bagaimana bagi-bagi jabatan dan proyek di koalisi gemuk seringkali berakhir dengan salimpoh anggaran dan saling lempar tanggung jawab. Tetapi semua tetap senyum-senyum karena setidaknya, mereka tidak di luar pagar istana. 😄
© swataniEtam.
Hak cipta dilindungi. Dilarang menyalin atau mempublikasikan ulang konten ini tanpa izin tertulis dari pemilik.
Diskusi