program MSG( micin)



Suatu pagi, Pak Prabowo mengumpulkan para ketua partai koalisi. Bukan untuk bagi kursi, tapi untuk membahas teknis Makan Siang Gratis. Beliau membuka rapat dengan semangat:

"Alhamdulillah, program Makan Siang Gratis jalan. Anak-anak senang. Sekarang, saya minta partai-partai membantu pengawasan distribusi."

Belum selesai bicara, Partai A langsung angkat tangan:
"Pak, kami siap mengawasi distribusi ayam di Jawa. Konstituen kami banyak peternak. Biar kami yang atur rantai pasoknya."

Partai B tak mau kalah:
"Kalau saya, Pak, minta sayur dan beras di Sumatra. Petani binaan kami sudah siap tanam sesuai menu makan siang."

Partai C nyaut dari sudut ruangan:
"Saya minta logistik dapur di Timur, Pak. Kami punya koperasi pengangkut. Biar kami yang anter makanan ke sekolah-sekolah."

Pak Prabowo mengangguk-angguk, lalu membuka kalkulator.
"Baik. Ayam dari A, beras dari B, angkutan dari C. Saya hitung biaya per porsi."

Jari beliau menekan tombol. Tiba-tiba alisnya naik.
"Lho, kok harganya jadi Rp 18.000 per porsi? Padahal anggaran cuma Rp 15.000! Ini mahal sekali!"

Partai A menjawab santai, "Itu karena ayamnya ayam kampung super, Pak. Biar bergizi."
Partai B nambahi, "Berasnya juga beras organik khusus konstituen kami."
Partai C menimpali, "Mobil box-nya pakai pendingin, Pak. Biar lauknya tidak basi."

Pak Prabowo menghela napas panjang.
"Jadi, program ini bukan makan siang gratis untuk anak, tapi makan mewah untuk kantong partai, ya?"

Ruangan mendadak hening. Kemudian Pak Prabowo lanjut:
"Baik, saya ubah aturan. Ayamnya saya beli dari pasar umum, berasnya pakai bulog, dan angkutannya pakai truk TNI. Kalian semua dapat bagian sebagai 'tim sosialisasi'."

Partai A bertanya heran, "Sosialisasi apa, Pak?"
"Kalian turun ke sekolah, foto bareng anak-anak makan. Kalau menunya enak, kalian yang dapat pujian. Tapi kalau ada anak keracunan atau nasinya keras, kalian yang saya tunjuk pertama kali di konferensi pers."

Para ketua partai saling pandang, muka tegang.

Partai C berbisik, "Berarti bagian kita cuma jadi tumbal kalau gagal?"
Partai B mengeluh, "Dan kalau sukses, pujiannya tetap untuk Presiden."

Pak Prabowo tersenyum lebar sambil menutup rapat:
"Nah, sekarang kalian sudah paham. Dalam program Makan Siang Gratis, bagian kalian adalah menjadi penjaga gawang—kalau gol, saya yang cetak. Kalau kebobolan, kalian yang salah posisi. Sekarang, ayo ke dapur umum, kita cicipi menunya. Saya bayar sendiri, biar tidak ada yang protes."

Para ketua partai hanya bisa geleng-geleng. Di luar ruangan, ajudan berbisik ke staf:
"Hasil rapatnya apa?"
"Hasilnya: semua partai dapat 'bagian', tapi bagiannya cuma bagian tanggung jawab kalau menunya gagal, dan bagian tepuk tangan kalau berhasil."

---

Pesan cerita: Ini menggambarkan bagaimana program makan siang gratis yang ideal seringkali dihambat oleh kepentingan bagian politik dan rantai pasok yang "dimarkup". Pada akhirnya, semua ingin kredit, tapi takut mendapat beban. 😄
© swataniEtam.
Hak cipta dilindungi. Dilarang menyalin atau mempublikasikan ulang konten ini tanpa izin tertulis dari pemilik.
Diskusi