Ayah_1

Aku dibesarkan oleh seorang ayah yang baik hati. Tidak pernah aku dengar ia membentak, apalagi mengangkat tangan. Ia rendah hati—meskipun para operator alat berat di tambang atau proyek jalan sering bilang ia tukang yang paling jujur dan paling teliti. Dan ia penyayang. Cinta ayah kepadaku terasa seperti gemuruh mesin diesel yang hangat—kuat, stabil, dan melindungi.


Ibuku ada. Beliau baik, sabar, dan bekerja sebagai guru di SD desa. Tapi jujur, dalam ingatanku, sosok yang lebih banyak mengisi hari-hariku adalah ayah. Ibu sering pulang sore sepulang mengajar, sementara ayah—dengan bengkel alat beratnya yang ada di belakang rumah—lebih sering bersamaku. Pagi, siang, hingga petang. Jadi bukan berarti ibu tidak penting. Hanya saja, ayah adalah pusat dari segala kenanganku.


Aku adalah anak tunggal. Anak laki-laki satu-satunya. Tidak ada kakak, tidak ada adik. Aku, ayah, dan ibu. Tapi karena ayah selalu ada di rumah atau di bengkel, sebagian besar hariku lebih banyak dihabiskan dengannya. Aku adalah pusat dunianya, dan dia adalah seluruh alam semestaku.


---


Ayah sering mengajakku naik sepeda motor. Motor bebek tua kesayangannya, yang selalu ia rawat sendiri. Warna biru luntur, knalpotnya bunyi brum-brum patah-patah—tapi mesinnya selalu sehat berkat tangan ayah. Aku duduk di depan, di atas tangki bensin, karena badanku masih mungil. Rambutku yang agak panjang diterpa angin, beterbangan ke belakang. Kadang ayah menunduk sedikit dan menggigit ujung rambutku dengan lembut. Aku tertawa, meronta, "Ayah, sakit!" Padahal tidak sakit. Hanya geli dan hangat.


Bagiku, itu adalah bahasa cinta yang tidak akan pernah bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Ibu hanya tersenyum melihat kami dari jendela dapur.


---


Setiap pulang kerja dari bengkel alat berat, ayah tidak pernah datang dengan tangan hampa. Badannya mungkin penuh minyak hidrolik dan keringat bercampur debu tambang, tapi selalu ada bungkusan plastik warna-warni yang ia bawa. Isinya nasi hangat dengan lauk ikan tongkol kuah santan. Kuahnya kuning, agak encer, tapi gurih sekali. Ibu kadang memasak juga, tapi ayah suka membeli dari warung dekat bengkel karena ia tidak ingin ibu kelelahan setelah mengajar.


Aku dan ayah makan berdua di beranda bengkel. Di antara kunci pas ukuran raksasa dan obeng yang lebih besar dari lenganku. Ibu kadang ikut, tapi lebih sering kami berdua saja. Tidak ada yang lain. Hanya kami berdua, berlahan, sambil bercerita tentang buldoser yang mogok atau tentang gambar-gambar yang aku buat di sekolah.


---


Salah satu kenangan yang paling aku ingat adalah soal sate.


Suatu sore, ayah pulang lebih awal. Ia bilang, "Nak, Ayah belikan sate kambing, ya? Yang kamu suka." Ia naik motor lagi, pergi ke tukang sate di ujung desa. Entah kenapa, di jalan yang berbatu, bungkusan sate itu jatuh dari stang motornya. Ayah memungutinya, membersihkan sedikit debu, lalu tetap membawanya pulang.


Malam itu, kami makan sate bertiga—aku, ayah, dan ibu. Tapi mataku hanya tertuju pada ayah. Aku lahap sekali. Tapi ayah diam. Mulutnya mengunyah, tapi matanya kosong.


"Ayah, enak?" tanyaku polos.


Ayah tersenyum. "Enak, Nak."


Ibu hanya diam, menatap ayah dengan mata yang tahu lebih banyak dariku.


Tapi aku tahu, ayah tidak merasakan apa-apa. Aku terlalu kecil untuk paham saat itu. Tapi sekarang aku tahu: ayah sedang sakit. Entah sakit apa. Tapi lidahnya sudah mati rasa, mungkin karena lelah yang menumpuk, atau karena ia sudah terbiasa menelan apa pun tanpa mengeluh.


---


Aku ingat betul, ketika ayah memperbaiki motor bebek kami di halaman. Tapi kadang ia juga membawa pulang komponen kecil dari alat berat—sebuah filter oli raksasa atau rantai track yang sudah aus. Aku yang masih berusia lima tahun sudah ikut membantu. Tanganku mungil memegang obeng kecil, kadang hanya jadi "tukang pegang lampu senter" atau "tukang ambil kunci pas ukuran 12". Ayah tidak pernah marah jika aku salah kasih alat. Ia hanya berkata, "Pelan-pelan, Nak. Nanti kamu juga bisa. Karena kamu anak laki-laki satu-satunya, kamu harus bisa memperbaiki motormu sendiri."


Dari ayah—seorang mekanik alat berat yang tangannya hitam oleh oli dan gemuk—aku belajar bahwa memperbaiki sesuatu butuh kesabaran dan kekuatan. Bahwa hidup ini seperti mesin alat berat: kadang macet di tengah proyek, kadang overheat, tapi selalu bisa diperbaiki jika tahu sumber masalahnya. Dan bahwa kelak, aku akan berdiri sendiri.


Ibu hanya memperhatikan dari kejauhan, sesekali menyuguhkan teh.


---


Tapi semua kebahagiaan itu runtuh di kelas 4 SD.


Hari itu hujan deras. Ayah pergi ke sawah—karena selain mekanik alat berat, ia juga punya sepetak sawah warisan kakek. Katanya mau cek padi yang mulai menguning. Aku di rumah, mengerjakan PR Matematika yang ibu tinggalkan sebelum berangkat mengajar. Lalu petir menyambar. Begitu keras, sampai lampu di rumah mati sesaat.


Aku tidak tahu bagaimana bisa. Tapi beberapa jam kemudian, tetangga datang menggotong ayah.


Aku melihatnya. Dan aku tidak akan pernah melupakan pemandangan itu seumur hidupku.


Badannya kaku. Seluruh tubuhnya kaku seperti kayu. Tapi anehnya—tidak ada kulit yang menghitam. Tidak ada bekas terbakar. Tidak ada luka mengerikan seperti yang orang-orang ceritakan tentang orang tersambar petir.


Hanya bajunya yang koyak. Terbuka di beberapa jahitan, seperti ada tangan tak terlihat yang merobeknya.


Dan wajah ayah—wajahnya bersinar. Tenang. Bahkan lebih tenang dari saat ia tidur setelah seharian memperbaiki ekskavator. Bibirnya sedikit tersenyum, matanya terpejam rapat, alisnya tidak berkerut. Dia tampak seperti sedang bermimpi indah. Seperti sedang bertemu seseorang yang sangat ia rindukan.


Aku berdiri di ambang pintu, tidak berani mendekat. Bukan karena takut. Tapi karena aku merasa—ayah sedang damai. Dan aku tidak ingin mengganggu kedamaian itu.


Beberapa tetangga berbisik, "Aneh. Tersambar petir tapi kulitnya bersih. Hanya bajunya yang sobek."


Yang lain menjawab, "Mungkin karena hatinya bersih, Pak. Orang baik begitu matinya."


Ibu jatuh pingsan di sampingku. Aku hanya berdiri, membatu.


---


Hatiku kacau. Bukan kacau seperti sedih yang meledak-ledak. Tapi kacau seperti semua perasaan tiba-tiba hilang, dan yang tersisa hanya ruang kosong yang berisik.


Aku tidak bisa menangis. Benar-benar tidak bisa. Air matanya ada, tapi seolah ada sumbatan di tenggorokan yang membuatnya tak bisa keluar. Aku hanya berdiri di pojok ruangan, melihat ayah terbaring dengan wajah bersinar itu, mendengar ibu dan para tetangga perempuan menangis histeris.


Aku diam. Tidak bersuara. Tidak menetes.


Lalu aku mendengar bisik-bisik dari tetangga yang datang melayat.


"Kasihan, masih kecil, belum paham kali."

"Ya, anak seusia itu kan belum ngerti arti kematian."

"Nanti kalau sudah besar baru nangis."

"Lagipula dia anak tunggal, mungkin bingung sendiri."


---


Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang mendekat lalu berkata, "Kamu sedih, ya?" atau "Kamu takut?" atau "Kamu ingin menangis?"


Mereka semua pikir aku terlalu kecil untuk mengerti.


Padahal aku mengerti.


Aku mengerti bahwa ayah tidak akan pernah lagi menggigit rambutku saat naik motor.

Aku mengerti bahwa tidak akan ada lagi bungkusan nasi ikan tongkol kuah santan.

Aku mengerti bahwa sate yang jatuh itu bukan tanpa rasa—tapi ayah yang sudah kehilangan rasa karena terlalu banyak beban.


Aku mengerti bahwa satu-satunya lelaki yang paling mencintaiku di dunia ini sudah pergi untuk selamanya. Dan aku sekarang hanya punya ibu.


Tapi aku tidak bisa menangis. Bukan karena aku tegar. Tapi karena di dalam dadaku, ada sesuatu yang pecah dan hancur berkeping-keping—lalu semua kepingan itu mengapung di ruang hampa, tidak tahu harus ke mana.


Ibu terlalu patah untuk menghiburku. Dan aku terlalu kaku untuk memeluk ibu.


---


Tapi ada satu hal yang membuatku sedikit tenang di tengah semua kekacauan itu:


Wajah ayah bersinar.


Dan aku, anak kecil yang tidak bisa menangis itu, berbisik dalam hati:


"Ayah tenang. Ayah bahagia di sana. Ayah tidak sakit lagi."


---


Sekarang aku sudah dewasa. Rambutku tidak lagi panjang. Aku bisa memperbaiki motorku sendiri—persis seperti yang ayah ajarkan. Aku juga bekerja di bengkel alat berat, mewarisi keahlian ayah. Tanganku kini hitam oleh oli dan gemuk, seperti dulu tangan ayah.


Ibu masih mengajar. Beliau sudah tua, tapi tetap sabar mendidik murid-muridnya. Aku menyayangi ibu. Tapi jujur, ayah tetaplah figur yang paling mendominasi setiap sudut kenanganku.


Setiap kali hujan turun, dan petir menggelegar, aku masih menatap ke luar jendela.


Aku tidak takut.


Aku hanya berharap, di langit sana, ayah sedang tersenyum melihat anak tunggalnya yang kini tumbuh menjadi laki-laki, yang bisa membetulkan buldoser dan ekskavator, yang bisa menghidupi ibu guru itu.


Dan pelan-pelan, di kamar yang sepi, di malam yang tidak ada seorang pun melihat, akhirnya air mataku menetes juga.


Aku menangis untuk ayah. Aku menangis untuk ibu yang tetap kuat. Dan aku menangis untuk anak kecil yang dulu tidak diberi ruang untuk bersedih.


---


Untuk ayah, mekanik alat berat terbaik yang pernah kukenal. Wajahmu yang bersinar itu masih kuingat sampai sekarang.

Dan untuk ibu, terima kasih telah mengizinkan ayah menjadi bintang dalam cerita hidupku.

© swataniEtam.
Hak cipta dilindungi. Dilarang menyalin atau mempublikasikan ulang konten ini tanpa izin tertulis dari pemilik.
Diskusi