Bayangkan ponsel kita adalah sebuah panggung raksasa. Setiap hari, kita sebagai Muslimah masuk ke panggung itu, melihat-lihat konten, lalu ikut-ikutan tren. Tapi, tahukah kamu? Panggung itu sebenarnya bukan milik kita. Ada pemiliknya, dan dia sudah mengatur segalanya—termasuk apa yang boleh kita lihat dan apa yang tidak.
Inilah tantangan besar Muslimah di era digital.
Masalahnya: Algoritma itu Licin dan Punya Motto “Cuan”
Dulu, orang membentuk pendapat politik dari berita atau diskusi ilmiah. Sekarang? Banyak generasi Z, termasuk Muslimah, lebih percaya influencer atau kreator konten daripada media resmi. Sekitar setengah dari mereka bilang begitu. Padahal, kreator itu belum tentu paham Islam atau punya niat baik.
Yang lebih bahaya: platform digital seperti TikTok, Instagram, atau YouTube tidak dirancang untuk menyebarkan kebenaran. Mereka dirancang untuk mencari untung. Konten yang bikin emosi, marah, atau heboh, akan 3 kali lebih cepat menyebar dibandingkan fakta ilmiah. Akibatnya, konten provokatif lebih mudah viral.
Muslimah Dijadikan “Konsumen Pasif”
Algoritma dengan halus mengubah profil Muslimah. Dari yang seharusnya menjadi agen intelektual (orang yang berpikir kritis dan berdakwah dengan ilmu), perlahan-lahan kita digiring jadi pembeli gaya hidup. Kita disuguhi konten make-up, fashion, gosip selebriti, atau hiburan dangkal. Identitas Islam yang kuat tergerus.
Jangan salah, ini bukan kebetulan. Ini adalah bentuk kolonialisme digital. Infrastruktur internet (satelit, kabel laut, data center) dikuasai korporasi Barat. Mereka bebas menyensor. Buktinya, lebih dari 1.000 akun pembela Palestina atau konten Islam yang kritis terkena shadow banning (kontennya tidak dihapus tapi tidak ada yang melihat) hingga dihapus paksa.
Kita merasa bebas berpendapat, padahal ada sensor terstruktur yang bekerja diam-diam.
Terus, Gimanana Solusinya?
Jangan panik. Ada tiga jurus jitu yang bisa dilakukan Muslimah agar tidak terjebak:
1. Tabayun Dulu, Jangan Langsung Share
Tabayun itu bahasa kerennya: cek fakta dan validasi informasi sesuai syariat. Jangan asal klik share atau retweet. Tanyakan: siapa pembuat konten ini? Apa tujuannya? Apakah ini fakta atau hanya provokasi?
2. Bangun Kesadaran Politik Hakiki
Artinya, jangan lihat masalah dunia (seperti perang, ekonomi, krisis kemanusiaan) hanya dari komentar viral. Lihat dari sudut pandang akidah Islam. Tanyakan: bagaimana Islam memandang ini? Apa kewajiban Muslimah di sini? Jangan ikut-ikutan opini yang dangkal.
3. Jadi Produsen, Bukan Konsumen Pasif
Inilah blueprint keren untuk Muslimah:
· Deconstruction content: Bongkar bias media sekuler. Misal, ketika ada berita tentang Palestina, tunjukkan mana yang propaganda dan mana fakta.
· Micro-podcasting teoretis: Buat konten audio atau video pendek tapi tajam, membahas politik Islam dari akar pemikiran. Tidak perlu panjang, yang penting berbobot.
· Visualisasi data sistemis: Sajikan data objektif (misal, jumlah korban, fakta sejarah, dalil syar'i) dalam bentuk grafik atau infografis yang mudah dipahami. Ini menjernihkan pikiran publik.
Intinya: Jangan biarkan algoritma membentuk identitas kita. Kitalah yang harus membentuk algoritma—dengan cara membanjiri ruang digital dengan konten Islam yang cerdas, kritis, dan berkesadaran politik. Dari yang tadinya jadi penonton, kita berubah jadi pemain utama. Kita bisa jadi agen perubahan, bukan korban kolonialisme digital.
Yuk, mulai dari sekarang. Buka ponsel, tapi dengan strategi. 💪📱